Setungku Nasi dan Seribu Rahasia di Tanah Raja
Sejak usia dini, aku selalu memiliki
ketertarikan terhadap segala sesuatu yang berdenyut dalam dunia seni. Ada resonansi
mendalam dalam cara sebuah raga bergerak di atas panggung, dalam lantunan
dialog yang sarat makna, dan dalam permainan cahaya yang menyentuh ekspresi
seorang aktor. Teater, film, dan panggung pertunjukan, semuanya memanggilku
dengan suara sunyi yang hanya bisa didengar oleh jiwaku sendiri.
Hingga suatu hari, sebuah kabar
datang menghampiri, membuat jantungku berdesir kencang: Aku terpilih menjadi
salah satu pemeran dalam proyek film yang digarap oleh Dinas Pendidikan Kota
Yogyakarta. Film ini bukanlah fiksi, melainkan sebuah penghormatan terhadap "Jogja
Kembali", kisah yang merupakan napas dan ruh kota ini.
Dalam panggung sejarah itu, aku
mendapatkan peran sebagai sahabat Ibu Ruswo, salah satu perempuan pejuang yang
berjuang di garis belakang. Tugasku terletak di dapur rahasia, sebuah ruang
sunyi tempat strategi perjuangan dirajut dalam kehangatan api tungku. Aku tidak
memegang bambu runcing, pun namaku tidak terukir tebal dalam buku sejarah.
Tugasku sederhana, namun vital: memasak setungku nasi.
Di tengah masa perjuangan, setungku
nasi bukanlah sekadar makanan, ia adalah harapan, sumber kekuatan, dan penopang
keselamatan bagi banyak nyawa. Di dalam kepulan uap dan aroma yang mengepul
dari wajan, tersimpan sebuah tekad kolektif untuk terus bertahan.
Proses syuting adegan dapur
berlangsung selama lima hari di sebuah joglo kecil. Dinding kayunya
terasa menyimpan gema suara masa lalu. Saat pertama kali kaki melangkah masuk,
aku seolah dibawa mundur ke tahun 1949. Aroma tanah basah, bunyi ayam di
kejauhan, dan nyala tungku yang perlahan hidup, semuanya terasa otentik,
seperti rekaman hidup yang dihidupkan kembali.
Pada hari kedua, sebuah momen
terjadi yang mengukir makna mendalam. Saat adegan memasak, api di tungku
tiba-tiba berkobar tak terkendali. Kepanikan sempat menjalar di antara kami dan
kru kamera. Namun, sutradara menahan kami. Ia berujar, bukan untuk memadamkan
api, melainkan untuk mengabadikannya:
"Biarkan
kamera terus berputar. Perjuangan memang tidak pernah rapi, dan sejarah tidak
selalu mulus."
Kalimat itu menamparku lembut,
menyadarkanku bahwa sejarah yang nyata tidak hanya terdiri dari momen
kemenangan yang heroik, tetapi juga dari keringat, kepanikan, dan
ketidaksempurnaan yang justru membuat kisah itu terasa hidup dan manusiawi.
Di tengah kelelahan syuting pagi
hingga tengah malam, muncul kehangatan yang tak terlupakan. Kami duduk
melingkar di lantai joglo saat jeda, menikmati lauk sederhana dengan
kebaya yang masih kami kenakan. Sungguh menarik, para pemeran antagonis yang di
layar tampak bengis dan penuh tekanan, justru menjadi yang paling hangat dan
jenaka saat kamera mati (offscreen). Dari mereka, aku belajar bahwa
watak manusia jauh lebih kompleks dari sekadar peran yang dimainkan. Kita semua
memiliki sisi lembut yang hanya muncul saat kita merasa aman di antara sesama.
Di malam terakhir syuting, ketika
lampu redup dan joglo mulai tenang, aku duduk sesaat di dekat properti
tungku yang apinya sudah padam. Ada rasa haru yang tak terlukiskan. Bukan
karena syuting usai, melainkan karena sebuah kesadaran menghampiriku bahwa
“seperti
setungku nasi yang kami masak dalam cerita itu, kenangan ini pun akan selalu
mengepul hangat menyebarkan aroma kebanggaan, keberanian, dan cinta akan tanah
kelahiran”.
Komentar
Posting Komentar