Merakit Harmoni dan Cerita Sandyakala 2025

 


Menjadi salah satu Pemandu PKKMB Sandyakala KM FEB UNY 2025 adalah sebuah anugerah yang terasa begitu personal. Ada getaran haru yang kurasakan: tak pernah kusangka, setahun yang lalu aku berada di barisan yang sama, menjadi mahasiswa baru yang dibimbing, dan kini aku berdiri di posisi sebaliknya. Bagi seorang yang cenderung memandang dunia dari balik jendela diri seorang introvert yang nyaman dalam kesunyian, keputusan ini adalah langkah tegap untuk keluar dari zona aman. Ini adalah ikhtiar tulus, keyakinan bahwa pertumbuhan terbaik seringkali lahir dari tantangan yang kita pilih sendiri.

Saat pengumuman nama-nama panitia, sejujurnya tak ada ekspektasi muluk di benak. Pikiran sederhana saat itu hanyalah bagaimana caranya memecah kebekuan, bagaimana meleburkan diri dengan rekan-rekan Pemandu lain yang sebelumnya sama sekali tak kukenal. Sebuah tantangan sosial yang terasa monumental, namun harus dihadapi demi tujuan yang lebih besar.

 

Mekarnya Ilmu dan Ikatan Persaudaraan

Perjalanan sebagai seorang Pemandu menuntut dedikasi dan energi yang tak sedikit. Ada rentetan persiapan yang harus diselesaikan, namun justru di sanalah aku merasakan ilmu-ilmu baru sedang bermekaran di dalam diriku. Sebelum kami diizinkan membina mahasiswa baru (maba) di lapangan yang sesungguhnya, kami harus melewati serangkaian penempaan yang disebut Challenge of Sandyakala (Chesa).

Kami melalui kelas-kelas intensif, dari mengasah kemampuan public speaking agar suara kami dapat menginspirasi, hingga belajar mengelola emosi agar dapat menjadi jangkar yang tenang di tengah riuh. Semua tahapan ini adalah bekal untuk menyiapkan jiwa dan raga.

Chesa 4 & 5 yang Tak Lekang oleh Waktu

Total tujuh kali Chesa kami lalui, namun dua sesi terasa begitu mengukir jejak di memori: Chesa 4 dan Chesa 7.

Chesa 4 menjadi titik balik yang berkesan. Pada hari itu, kami semua secara resmi dipasangkan dengan partner kami, sepasang rekan yang akan berjalan bersama, bahu-membahu menjadi mentor bagi satu gugus maba. Aku mendapatkan informasi bahwa aku diamanahi untuk membimbing Gugus Morph bersama partnerku.

Perjalanan dari Chesa 4 hingga perjumpaan pertama di Chesa 7 adalah fase pendewasaan yang indah. Aku dan partnerku, yang awalnya adalah dua individu yang canggung dan kurang akrab, kini dipaksa oleh takdir dan tugas untuk saling mendekatkan diri. Kami belajar mengenal karakter satu sama lain, menyusun rencana, dan berbagi visi dalam keheningan maupun diskusi. Ikatan profesional yang awalnya rapuh kini bertransformasi menjadi ikatan persahabatan yang solid, terbentuk karena tujuan bersama untuk mendidik dan menginspirasi anak-anak gugus kami.

Kami merancang identitas bagi gugus yang akan kami dampingi. Tagline yang kami ciptakan menjadi semangat mereka:

“Raih Mimpi dengan Aksi, Satukan Gerakan dalam Harmony.”

Dan sebagai panggilan akrab yang menghangatkan, kami memberikan nama khusus untuk anak-anak Gugus Morph yaitu "Morphie".

 

Kebersamaan Penuh Makna di Chesa 7

Chesa ke-7 adalah hari perjumpaan, momen ketika kami akhirnya bertatap muka dengan Morphie untuk pertama kalinya. Melihat wajah-wajah penuh harap dan antusiasme, aku menyadari bahwa semua lelah dan persiapan intensif yang kulalui memiliki tujuan yang nyata. Rasa canggung perlahan mencair, berganti dengan rasa memiliki. Saat mereka mengucap tagline itu, suara mereka seolah membalas segala upaya kami, mengukuhkan ikatan yang baru saja terbentuk.

 

The Bloom of Sandyakala 2025

Setelah melalui serangkaian penempaan, tibalah Hari-H Sandyakala KM FEB UNY 2025.

Sejak fajar menyingsing, nuansa atmosfer sudah berbeda. Halaman FEB dipenuhi semangat kolektif ribuan  mahasiswa baru. Tugas utamaku bukan lagi sekadar memberi perintah, tetapi menavigasi emosi dan memastikan setiap Morphie merasa dilihat dan didukung.

Momen ketika barisan Gugus Morph berjejer rapi, menyanyikan yel-yel dengan penuh semangat, adalah pemandangan yang mengharukan. Ketulusan yang terpancar terasa familiar, mengingatkanku pada diriku setahun silam. Aku berinteraksi dengan beberapa dari mereka secara personal, memberi semangat sederhana, atau sekadar memastikan mereka nyaman. Melihat mereka berhasil melewati hari yang panjang, bersama-sama, membuatku paham.

Keluar dari zona nyaman bukan hanya tentang mendapatkan ilmu atau pengalaman baru. Lebih dari itu, ia adalah tentang menemukan kapasitas diri untuk peduli dan kemampuan untuk terhubung dengan orang lain secara otentik. Anugerah Sandyakala ini benar-benar telah menjadikan orang introvert ini bertumbuh, tidak hanya sebagai Pemandu yang lebih cakap, tetapi sebagai pribadi yang lebih berani dan bermanfaat. Sebuah penutup yang indah untuk perjalanan yang dimulai dari sebuah langkah kecil menuju ketidaknyamanan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Bulletproof Journey: Kisah BTS, dari Agensi Kecil ke Puncak Billboard.

Kidung Sunyi di Kaki Merapi: Nyala Pelita Blencong, Penuntun Langkah Kehidupan