Postingan

Merakit Harmoni dan Cerita Sandyakala 2025

Gambar
  Menjadi salah satu Pemandu PKKMB Sandyakala KM FEB UNY 2025 adalah sebuah anugerah yang terasa begitu personal. Ada getaran haru yang kurasakan: tak pernah kusangka, setahun yang lalu aku berada di barisan yang sama, menjadi mahasiswa baru yang dibimbing, dan kini aku berdiri di posisi sebaliknya. Bagi seorang yang cenderung memandang dunia dari balik jendela diri seorang introvert yang nyaman dalam kesunyian, keputusan ini adalah langkah tegap untuk keluar dari zona aman. Ini adalah ikhtiar tulus, keyakinan bahwa pertumbuhan terbaik seringkali lahir dari tantangan yang kita pilih sendiri. Saat pengumuman nama-nama panitia, sejujurnya tak ada ekspektasi muluk di benak. Pikiran sederhana saat itu hanyalah bagaimana caranya memecah kebekuan, bagaimana meleburkan diri dengan rekan-rekan Pemandu lain yang sebelumnya sama sekali tak kukenal. Sebuah tantangan sosial yang terasa monumental, namun harus dihadapi demi tujuan yang lebih besar.   Mekarnya Ilmu dan Ikatan Persaud...

Merayakan Hidup Dalam Gerak Tari

Gambar
  Tari telah menjadi bagian penting dalam hidup saya sejak lama. Ini lebih dari sekadar aktivitas, melainkan cara utama saya mengekspresikan diri dan merasakan koneksi mendalam dengan lingkungan sekitar. Sejak kecil, saya selalu merasa bahagia saat bergerak mengikuti irama. Perjalanan dalam dunia tari membentuk karakter saya, membawa saya pada panggung yang selalu terasa seperti rumah. Di sanalah saya merasa benar-benar bebas, dimana semua beban pikiran hilang saat musik dimulai dan digantikan oleh fokus penuh pada setiap gerakan. Dalam perjalanan menari, saya telah berkesempatan menjumpai banyak ragam tarian dan pengalaman. Salah satunya adalah momen tarian kelompok yang mengutamakan kebersamaan. Saat menarikan tarian rakyat yang sederhana, yang terpenting bukanlah kesempurnaan teknis, melainkan energi yang kami bagi bersama. Pengalaman ini mengajarkan bahwa seni tari juga tentang kolaborasi dan ikatan emosional. Melihat senyum teman-teman dan merasakan kekompakan gerak serempak...

Setungku Nasi dan Seribu Rahasia di Tanah Raja

Gambar
Sejak usia dini, aku selalu memiliki ketertarikan terhadap segala sesuatu yang berdenyut dalam dunia seni. Ada resonansi mendalam dalam cara sebuah raga bergerak di atas panggung, dalam lantunan dialog yang sarat makna, dan dalam permainan cahaya yang menyentuh ekspresi seorang aktor. Teater, film, dan panggung pertunjukan, semuanya memanggilku dengan suara sunyi yang hanya bisa didengar oleh jiwaku sendiri. Hingga suatu hari, sebuah kabar datang menghampiri, membuat jantungku berdesir kencang: Aku terpilih menjadi salah satu pemeran dalam proyek film yang digarap oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Film ini bukanlah fiksi, melainkan sebuah penghormatan terhadap "Jogja Kembali", kisah yang merupakan napas dan ruh kota ini. Dalam panggung sejarah itu, aku mendapatkan peran sebagai sahabat Ibu Ruswo, salah satu perempuan pejuang yang berjuang di garis belakang. Tugasku terletak di dapur rahasia, sebuah ruang sunyi tempat strategi perjuangan dirajut dalam kehangatan api t...

Membuka Jendela Batin di "Behind The Eye"

Gambar
Kunjungan ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar melihat pajangan, melainkan sebuah undangan untuk menyelami kedalaman pikiran seniman kontemporer asal Sleman, Khadir Supartini , melalui pameran tunggalnya: "Behind The Eye" . Saat pertama kali masuk, suasana ruang pamer langsung terasa berat namun magnetis . Judul pameran ini, yang terinspirasi dari salah satu karyanya, benar-benar menjadi gerbang ke isu-isu yang tersembunyi. Khadir tidak sedang berbicara tentang hal-hal yang indah dan mudah, namun ia berani menyentuh narasi-narasi kecil, hal-hal yang dianggap abnormal, tabu, dan menyimpang dalam masyarakat.   Beragam Medium, Satu Kegelisahan Hal yang paling menarik perhatian adalah keragaman medium yang digunakan Khadir. Ia tidak terpaku pada satu gaya. Pameran ini menyuguhkan puluhan karya, campuran karya lama dan baru, meliputi: Lukisan: Kanvas-kanvas dengan komposisi warna kuat dan goresan ekspresif. Terlihat jelas ek...

Kidung Sunyi di Kaki Merapi: Nyala Pelita Blencong, Penuntun Langkah Kehidupan

Gambar
Dingin yang merayap di Kaliurang adalah salam pembuka, bukan dari alam, melainkan dari masa lalu. Di tengah rimba pepohonan yang membisu, tersimpan sebuah rahasia luhur, bersemayam di balik dinding batu andesit: Museum Ullen Sentalu. Namanya, sebuah mantra Jawa: "Ulat ing Blencong Sejatine Tataraning Lumaku" . Ia bukan sekadar bangunan, melainkan arkade yang menjembatani kita dengan jiwa Mataram yang abadi. Begitu melangkah masuk, sukma ku seolah meninggalkan hiruk pikuk abad ke-21. Di sini, waktu bergerak dalam irama yang berbeda, lambat dan penuh hormat. Saya memilih titian Adiluhung Mataram , sebuah janji untuk menyingkap selubung kemuliaan budaya Jawa. Ruang Resonansi Keheningan Kaki ku menapak sunyi, menembus lorong yang gelap, dirancang menyerupai gua. Pemandu yang merupakan seorang penjaga kisah, mulai berbisik, dan menghidupkan setiap bayangan. Di Ruang Seni dan Gamelan, seperangkat perunggu berkilau samar. Mereka diam, namun irama nya terasa memenuhi rongga dada. “ ...

The Bulletproof Journey: Kisah BTS, dari Agensi Kecil ke Puncak Billboard.

Gambar
  Tujuh bintang dari negeri ginseng   — Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, dan Jeon Jungkook debut sebagai  BTS (Bangtan Sonyeondan - 방탄소년단), sebuah grup musik pop yang mendunia. Berangkat dari agensi yang minim sorotan dan dorm yang tak seberapa luas di kota Seoul, tantangan awal itu justru menjadi bara yang menyulut ambisi besar mereka. Berangkat dari mimpi kecil Pada hari-hari awal debut yang penuh tantangan, saat sorotan media masih terasa begitu jauh, para anggota BTS berdiri di panggung-panggung kecil. Mereka adalah para perintis yang berani. Dalam kesendirian itu, mereka sering kali harus menghitung penggemar yang hadir dengan jari-jari tangan mereka, menyaksikan barisan yang masih renggang di hadapan mereka. Namun, keterbatasan fisik itu justru memicu kekuatan terbesar dalam diri mereka: imajinasi dan Law of Attraction. Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan akan jumlah yang minim, mereka menutup mata, menyelaraskan energi...