Membuka Jendela Batin di "Behind The Eye"

Kunjungan ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar melihat pajangan, melainkan sebuah undangan untuk menyelami kedalaman pikiran seniman kontemporer asal Sleman, Khadir Supartini, melalui pameran tunggalnya: "Behind The Eye".

Saat pertama kali masuk, suasana ruang pamer langsung terasa berat namun magnetis. Judul pameran ini, yang terinspirasi dari salah satu karyanya, benar-benar menjadi gerbang ke isu-isu yang tersembunyi. Khadir tidak sedang berbicara tentang hal-hal yang indah dan mudah, namun ia berani menyentuh narasi-narasi kecil, hal-hal yang dianggap abnormal, tabu, dan menyimpang dalam masyarakat.

 

Beragam Medium, Satu Kegelisahan

Hal yang paling menarik perhatian adalah keragaman medium yang digunakan Khadir. Ia tidak terpaku pada satu gaya. Pameran ini menyuguhkan puluhan karya, campuran karya lama dan baru, meliputi:

  • Lukisan: Kanvas-kanvas dengan komposisi warna kuat dan goresan ekspresif. Terlihat jelas eksplorasi impuls alam bawah sadar dan psikodinamika.
  • Gambar (Drawing): Karya yang lebih intim, seringkali menampilkan detail dari kegelisahan personal dan sosial.
  • Patung: Figur-figur ganjil dan instalasi tiga dimensi yang memaksa kita melihat struktur sosial dari sudut pandang yang berbeda.

Setiap karya adalah wujud dari perjalanan  Khadir. Konsistensi spirit dan emosi terasa kuat, menghubungkan isu personal sang seniman dengan persoalan kemanusiaan secara umum yang ia temukan di media dan praktik sehari-hari.

 

Estetika yang Mengusik dan Menyenangkan

Salah satu inti dari pameran ini, menurut kurator, adalah keinginan Khadir untuk menunjukkan bahwa:

"Seni bisa mengasah selera-selera estetik kita ke suatu ruang yang asing tapi menyenangkan."

Saya merasakannya. Beberapa karya awalnya terasa mengusik, membuat saya harus berpikir keras atau bahkan sedikit terkejut. Misalnya, karya yang mengeksplorasi moralitas atau kritik sosial terasa tajam. Namun, justru dalam keasingan itulah muncul kenikmatan dalam mengapresiasi. Ini adalah keindahan yang lahir dari kejujuran, bukan dari kepura-puraan.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Bulletproof Journey: Kisah BTS, dari Agensi Kecil ke Puncak Billboard.

Kidung Sunyi di Kaki Merapi: Nyala Pelita Blencong, Penuntun Langkah Kehidupan

Merakit Harmoni dan Cerita Sandyakala 2025