Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Membuka Jendela Batin di "Behind The Eye"

Gambar
Kunjungan ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar melihat pajangan, melainkan sebuah undangan untuk menyelami kedalaman pikiran seniman kontemporer asal Sleman, Khadir Supartini , melalui pameran tunggalnya: "Behind The Eye" . Saat pertama kali masuk, suasana ruang pamer langsung terasa berat namun magnetis . Judul pameran ini, yang terinspirasi dari salah satu karyanya, benar-benar menjadi gerbang ke isu-isu yang tersembunyi. Khadir tidak sedang berbicara tentang hal-hal yang indah dan mudah, namun ia berani menyentuh narasi-narasi kecil, hal-hal yang dianggap abnormal, tabu, dan menyimpang dalam masyarakat.   Beragam Medium, Satu Kegelisahan Hal yang paling menarik perhatian adalah keragaman medium yang digunakan Khadir. Ia tidak terpaku pada satu gaya. Pameran ini menyuguhkan puluhan karya, campuran karya lama dan baru, meliputi: Lukisan: Kanvas-kanvas dengan komposisi warna kuat dan goresan ekspresif. Terlihat jelas ek...

Kidung Sunyi di Kaki Merapi: Nyala Pelita Blencong, Penuntun Langkah Kehidupan

Gambar
Dingin yang merayap di Kaliurang adalah salam pembuka, bukan dari alam, melainkan dari masa lalu. Di tengah rimba pepohonan yang membisu, tersimpan sebuah rahasia luhur, bersemayam di balik dinding batu andesit: Museum Ullen Sentalu. Namanya, sebuah mantra Jawa: "Ulat ing Blencong Sejatine Tataraning Lumaku" . Ia bukan sekadar bangunan, melainkan arkade yang menjembatani kita dengan jiwa Mataram yang abadi. Begitu melangkah masuk, sukma ku seolah meninggalkan hiruk pikuk abad ke-21. Di sini, waktu bergerak dalam irama yang berbeda, lambat dan penuh hormat. Saya memilih titian Adiluhung Mataram , sebuah janji untuk menyingkap selubung kemuliaan budaya Jawa. Ruang Resonansi Keheningan Kaki ku menapak sunyi, menembus lorong yang gelap, dirancang menyerupai gua. Pemandu yang merupakan seorang penjaga kisah, mulai berbisik, dan menghidupkan setiap bayangan. Di Ruang Seni dan Gamelan, seperangkat perunggu berkilau samar. Mereka diam, namun irama nya terasa memenuhi rongga dada. “ ...